Share It

Laman

Minggu, 08 April 2012

Benda Peninggalan Kerajaan Blambangan Banyak Dijual Warga


Ratusan benda bersejarah peninggalan Kerajaan Blambangan Abad ke-17, di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur, telah berpindah tangan karena dijual oleh warga setempat.

Gunawan (bukan nama sebenarnya), 32 tahun, warga Desa Macan Putih, mengaku telah menjual barang-barang bersejarah yang ditemukannya ke sejumlah orang yang sebagian besar berasal dari Bali.

Barang-barang yang telah berpindah tangan itu, antara lain, jenis guci, perunggu, perhiasan, patung, dan cangkir. "Saya tidak bisa menghitung, tapi sudah ratusan," kata lelaki yang tak lulus sekolah dasar ini.


Gunawan melakoni profesi ini sekitar tiga tahun lalu. Awalnya, dia yang bekerja sebagai tukang cetak batu bata ini secara tak sengaja menemukan sebuah patung berbentuk manusia saat menggali tanah. Patung itu ia simpan di rumahnya. Beberapa hari kemudian, seorang laki-laki yang tak pernah ia kenal sebelumnya, bertamu dan berniat membeli patungnya. "Laku Rp 150 ribu," ungkapnya.

Transaksi pertama itu membuat Gunawan ketagihan. Saat batu batanya sepi order, ia pun menggali lahan-lahan perkebunan milik warga lainnya. Seratusan lebih lubang telah digali. Ratusan barang berhasil ia dapat. Ia pernah mengantongi Rp 800 ribu dari perunggu padat yang didapatnya. Menurut Gunawan, pendapatan ini jauh lebih banyak ketimbang penghasilannya sebagai tukang cetak batu bata. "Hanya dapat Rp 30 ribu sehari," ia menjelaskan.

Gunawan menyatakan tidak tahu nama-nama pembeli yang mendatanginya. "Orangnya ganti-ganti saya tidak ingat," kata ayah satu anak ini.

Menurut Gunawan, ada tiga orang lagi yang juga aktif mencari barang-barang peninggalan Kerajaan Blambangan di Desa Macan Putih.

Ahmad (bukan nama sebenarnya) juga mengaku pernah menjual barang-barang bersejarah yang ditemukannya di sawah, berupa cangkir, guci, dan keramik. "Saya pernah dapat 27 keramik yang motifnya beda-beda," ungkapnya.

Joko Sastro dari Forum Penyelamat Sejarah Macan Putih mengatakan, praktek penjualan barang-barang bersejarah itu sudah lama berlangsung dan diketahui oleh banyak warga lainnya. Mereka terpaksa menjual, karena terbentur soal ekonomi.

Sejarawan Sri Margana dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, mengatakan, supaya barang-barang bersejarah itu dapat terselamatkan, pemerintah daerah harus menyediakan anggaran untuk memberi ganti rugi kepada warga yang menemukan. "Harusnya Banyuwangi memiliki Balai Pelestarian untuk memperpendek birokrasi tersebut," katanya.

Margana menduga, jual-beli benda-benda bersejarah itu merupakan sindikat yang bertujuan mengeruk keuntungan pribadi. Padahal, benda-benda itu memiliki nilai historis yang sangat membantu untuk mengungkap sejarah Kerajaan Blambangan di Macan Putih.

Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan terakhir di Pulau Jawa yang bercorak Hindu. Pusat kerajaan pernah pindah sebanyak enam kali, salah satunya berada di Desa Macan Putih (dulunya bernama hutan Sudiamara). Saat di Macan Putih ini, Kerajaan Blambangan dipimpin Raja Tawang Alun II (1655-1691) dan Kerajaan Blambangan mencapai puncak kejayaannya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Setio Harsono, mengatakan Pemerintah Banyuwangi tahun ini tidak menganggarkan ganti rugi untuk warga yang menemukan benda bersejarah. Ia enggan berkomentar banyak, karena belum mengetahui informasi penjualan benda bersejarah di Macan Putih. "Saya akan utus staf untuk mencari informasi ke Macan Putih," katanya saat dihubungi Tempo.


IKA NINGTYAS

2 komentar:

ternyata masih banyak WNI yang belum sadar, akan pentingnyna benda peninggalan sejarah tersebut.
seharusnya, warga menyerahkan benda temuan tersebut pada dinas kebudayaan dan pariwisata, dan.... mereka juga akan mendapatkan komisi atas penemuan benda tersebut.

Blogspot Tutorial

Gimana banyuwangi mau maju jika masih ada oknum masyarakat yang malah menghancurkan daerahnya sendiri dengan menjual aset-aset daerah yang sangat berharga kepada orang luar daerah hanya untuk mencukupi kebutuhan perut...!!
benar-benar tidak mencerminkan masyarakat pecinta seni dan budaya daerahnya...!!

keluar saja kalian oknum dari tanah blambangan jika masih seperti itu kelakuan kalian dengan menghancurkan daerah tinggal kalian sendiri...!!

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More